Senin, 30 November 2009

Senin, 30/11/2009

Hari sabtu dua minggu yang lalu saya dan beberapa teman mengadakan acara syukuran lulus sidang skripsi bersama dosen pembimbing (DP) kami. Pada siang itu saya mengenakan kemeja North Face warna hitam dan celana jeans Levi's warna biru. Saya terpaksa ikut karena kesepakatan iuran per anak 200.000 untuk acara makan-makan dan membelikan kenang-kenangan untuk sang DP, rugi kalau tidak ikut acara makan-makannya. Sebenarnya saya kurang setuju iuran sebesar itu.
  • Pertama, 200.000 itu tidak sedikit, kalau ditambah 24 juta bisa saya gunakan untuk beli motor Tiger baru.
  • Kedua, selama penyusunan skripsi sepertinya ibu DP ini tidak pernah membaca skripsi saya sehingga saya sendiri yang secara konstan melakukan revisi atas skripsi saya berulang-ulang, dia sendiri tidak pernah memberikan saran, kritik, koreksi, atau bimbingan terhadap materi skripsi.
  • Ketiga, sekalinya dia melakukan koreksi dan kritik dia melakukannya pada saat sidang skripsi dan membuat skripsi saya terlihat kurang baik di depan dosen penguji.
  • Keempat, saya tidak suka dikritik atau dikoreksi di depan orang.

Jam 13.30 saya dan beberapa teman segera berangkat ke Pacific Place dengan menggunakan taksi Ekspress. Kami menuju Kafe Batavia di lantai empat bertemu DP. Saya memesan soto betawi dan jus sirsak. Kemudian mereka makan sambil bercakap-cakap sementara saya makan sembari pura-pura tersenyum mendengar beberapa lelucon. Teman di sebelah kiri saya mengomentari warna behel saya yang berubah. Saya bilang, karet behel memang dapat diganti dua minggu sekali dan kita bisa memilih warna sendiri. Teman di sebelah kanan saya menyarankan kenapa tidak pakai warna pink saja. Saya bilang, warna pink terlalu imut tidak cocok untuk pria dewasa. Tiba-tiba sang DP mengkritik warna baju saya. Dia bilang, karena saya pakai kemeja hitam, kenapa tidak sekalian pakai celana warna hitam, kemudian pakailah behel warna pink, maka saya akan dicolek dan digemari kaum gay. Dia juga menceritakan pengalaman temannya yang mengenakan tanktop hitam dan hotpant hitam yang dicolek gay ketika sedang jogging di senayan. Kesimpulannya, pakaian dengan warna hitam-hitam adalah seragam kaum gay.

Kalimat yang dilontarkan sang DP membuat saya tersinggung.
  • Pertama, saya pakai kemeja hitam karena warna hitam itu telihat macho, berani sekali dia bilang itu warna gay.
  • Kedua, wajar saja kalau temannya dicolek gay saat memakai hotpant karena hotpant didesain untuk mencetak area selangkangan pria terlihat menonjol.
  • Ketiga, pria normal tidak akan memakai hotpant dan tanktop hitam saat jogging.
  • Keempat, saya tidak suka dikritik atau dikoreksi di depan orang.
Spontan tangan kanan mengambil jus sirsak di hadapan saya dan menyiramkan ke muka sang DP. Kemudian tangan kiri yang memegang garpu tajam saya hujamkan berulang kali ke mukanya. Tentu saja kejadian ini hanya terjadi di alam khayalan. Saat dikomentari sang DP saya hanya bisa tersipu malu.

Setelah makan siang, kami merasa kenyang. Jam 17.30 kami ke Plaza Semanggi untuk karaoke. Ternyata sudah maghrib, sebagai muslim yang taat kami solat magrib dulu di lantai tujuh. Dari ketinggian saya melihat pemandangan matahari perlahan terbenam di antara pohon-pohon beton Jakarta, warna sinarnya yang keemasan sangat menakjubkan. Cahaya mentari yang menyentuh wajah saya sekonyong-konyong menghilangkan seluruh pikiran-pikiran negatif dan memberikan energi baru pada tubuh saya.

Setelah menikmati detik-detik yang penuh keagungan tersebut, kami berjalan ke Inul Vista. Kemudian kami melakukan karaoke selama dua jam. Jam 21.00 kami memutuskan untuk pulang. Sampai dikosan saya ditagih lagi 50.000 karena ternyata iuran yang 200.000 untuk menutupi seluruh biaya hura-hura dan bingkisan kenang-kenangan untuk sang DP masih kurang. Kemudian saya membuka Facebook dan menghapus DP dari daftar teman saya.

Selasa, 24 November 2009

Rabu, 25/11/2009

Dari bulan Juli kemarin saya sempat berhenti menulis di sini selama empat bulan. Kemudian tiba-tiba saya menulis lagi pertengahan November ini. Apa saja yang saya lakukan selama empat bulan tersebut, Anda mungkin (tidak) bertanya-tanya. Pada serial TV Barat yang sering saya tonton (contohnya; Heroes, Lost) akan ada satu episode khusus untuk menyingkap misteri di masa lalu yang terjadi pada tokoh utamanya dalam bentuk kilas balik, yang dilengkapi dengan pelintiran (twist) mengapa karakter ini sekarang begini, atau kemana hilangnya karakter itu. Seperti serial TV tersebut, kilas balik kali ini akan dimulai dengan;

“Previously on… TransJakarta…”

(maaf, garing)

Jadi, bulan Juli kemarin saya pulang ke Medan. Banyak sekali perubahan yang terjadi di rumah. Ibu dan Bapak Alhamdulillah sehat walafiat. Nenek saya yang sakit sekarang pindah ke rumah kami supaya ibu saya lebih mudah merawatnya. Kakak saya pindah ke Pekanbaru ikut suaminya. Juga ada satu masalah sangat pelik yang dialami kakak saya yang satu lagi yang membuat kami sekeluarga stress. Skip skip. Bertemu kembali dengan beberapa teman SMA, cinta lama bersemi kembali? Skandal bank century mulai hangat. Skip skip. Mengumpulkan bahan-bahan skripsi.

Kemudian saya kembali ke Jakarta. Bolak-balik ke perpustakaan UI depok. Skip skip Demostrasi mahasiswa meminta Sri Mulyani turun dari jabatannya. Gus Dur terpilih kembali sebagai presiden Indonesia dan Rhoma Irama sebagai wakilnya (di dunia paralel). Skip skip. Skripsi saya mandeg. skip skip. Terdengar desas desus bahwa saya akan dijodohkan dengan seorang pramugari. Skip skip. Memasuki bulan puasa. Skripsi mulai mengalami kemajuan. Dicuekin dosen pembimbing, sesajennya kurang.

Kemudian saya pulang ke Medan. Lebaran pertama salam-salaman, foto-foto (foto-foto?), makan-makan. Lebaran kedua salam-salaman, “kapan kawin?” “kapan kawin?”, “udah sering!”. Lebaran ketiga saya kembali ke Jakarta. Pramugari Garuda tua-tua dan judes!

Skripsi selesai. Dikenalkan dengan pramugari, sayang dia alay. Skip skip. Mulai rajin twitteran. Rumah tangga Dewi Persik dan Aldi Taher di ujung tanduk. Skip skip. Sidang skripsi. Dosen pembimbing memberikan pertanyaan yang tidak disangka-sangka, ingin saya tampar mulutnya. Alhamdulillah, lulus. Skip skip. Pengangguran terselubung. Cicak lawan buaya? Skip skip. Mulai kehilangan orientasi. Skip skip. Ah semuanya menjadi kabur, aktivasi autopilot mode.

Kemudian saya terbangun, malamnya saya akan menonton konser Netral.

Minggu, 22 November 2009

Sabtu, 14/11/09

Hari ini saya bangun siang, kemudian makan siang, kemudian tidur siang. Tiba-tiba sudah sore, jadi saya mandi sore. Malamnya Siska mengajak saya dan teman-teman (termasuk Roid sang PNS Sexy) bergembira ria di belantara Jakarta. Bergembira ria di sini artinya berkaraoke. Jadi saya memakai celana korduroy MLB warna krem, Kemeja Volcom warna merah muda, dan sendal gunung Teva. Siska memakai celana jeans biru yang lututnya bolong, kemeja ibu-ibu wana biru kotak-kotak, tapi katanya itu warna hijau, konfirmasi bahwa saya buta warna. Teman-teman yang lain juga pakai baju dan celana, tapi saya lupa detilnya.

Dengan taksi Ekspress kami meluncur menuju Jalan Jaksa, untuk makan malam di rumah makan Malaysia. Saya memesan nasi briyani ayam madu. Rasanya enak, tetapi porsinya kurang banyak. Teman-teman yang lain juga ikut makan, tapi saya tidak ingat mereka makan apa. Setelah makanan habis kami tidak tahu mau ngobrol apa karena kami semuanya pendiam. Jadi kami pura-pura nonton bola pada layar besar yang disediakan rumah makan Malaysia. Untunglah Roid punya ide untuk memecah kegaringan itu, dia bilang “Hey, kenapa tidak main Uno saja”. Kemudian kami main Uno. Setelah main Uno kami foto-foto.

Siska, Roid, dan teman-teman


Selesai makan kami jalan ke Sarinah, tujuannya adalah karaoke di Inul Vista. Ternyata ruangannya penuh semua, jadi kami harus menunggu lebih kurang dua jam. Selama menunggu itu kami tidak tahu harus ngobrol apa karena kami semua pendiam. Jadi saya pura-pura smsan. Teman-teman yang lain juga pura-pura melakukan sesuatu, tapi saya tidak ingat mereka melakukan apa. Untunglah Roid punya ide untuk memecah kegaringan itu, dia bilang “Hey, kenapa tidak main Uno saja”. Kemudian kami main Uno. Setelah main Uno kami foto-foto.

Siska menggelayut manja dengan suami orang


Selesai foto-foto kami pulang.

Nggak ding, setelah beberapa lama menunggu, akhirnya kami karaoke juga. Wow, teman-teman saya antusias sekali memegang mik. Oh, ternyata mereka menghemat energinya seharian demi memperebutkan benda hitam bulat lonjong tersebut , pantas saja tadi mereka semua pendiam. Setelah dua jam berkaraoke, saya melihat jam tangan, ternyata sudah jam 1.30 malam. Jadi kami semua pulang ke rumah masing-masing dengan hati senang.

Sabtu, 14 November 2009

Jumat, 13/11/09

Hari Kamis saya berencana menemui seorang dosen di daerah Rawamangun, untuk meminta tandatangan skripsi. Jadi paginya saya ke kampus mencari nomer telepon dosen tersebut. Tetapi nomernya tidak bisa dihubungi dan sms saya tidak ada reportnya. Saya mau nekat saja langsung ke Rawamangun menemui beliau, tetapi hujan turun. Jadinya saya tidur siang saja.

Sorenya saya ditelepon Regar memastikan saya datang ke FX. Beberapa hari sebelumnya dia meminta ditemani nonton konser Netral di FX. Jam 5.30 saya sudah siap berangkat, tetapi sepertinya kecepatan. Jadinya saya potong rambut dulu. Saya telpon Regar katanya masih di jalan, macet. Saya tanya nanti makan dimana, dia bilang sudah makan duluan, bagus. Jadinya saya makan di KFC Blok M sendirian. Agak tidak nyaman memang kalau makan di tempat umum sendirian, sepertinya mata orang-orang itu menganggap kita tidak laku atau tidak punya teman. Jadi saya lihatin balik saja mereka, dan memberikan senyum termanis saya. Mudah-mudahan tidak ada saos atau daging yang nyelip di gigi.

Saya sampai di depan FX jam 8.10, menggunakan transjakarta pastinya. Ternyata Regar juga baru sampai. Dia bilang baru pertama ini ke FX dan terkagum dengan kemewahannya. Saya bilang jangan bertingkah yang norak-norak atau saya pulang. Perlu saya beritahu Regar ini adalah perempuan, dan fakta bahwa saya lebih sering ke FX daripada dia membuat saya malu. Tapi Regar memang bukan tipe wanita yang suka belanja atau main di mall. Dia lebih suka menabung dan menghabiskannya dengan bertualang ke alam liar. Demi Tuhan, artis favoritnya saja Netral. Kemudian Regar bertanya siapa artis Indonesia favorit saya. Sebenarnya saya juga penggemar band-band Indonesia, tapi saat itu saya seperti blank, yang teringat di kepala cuma Rossa, Kangen Band, sama Wali. Sekali lagi Regar berhasil membuat saya tersipu malu.

Anyway, acara konsernya diadakan di lantai 6 di FX Lounge yang diberi nama Plug and Play. Artis pertama yang tampil adalah Kamaya alias Maya Idol 2008. Mungkin karena sudah ada artis lain yang pakai nama Maya, dan karena dia dari Medan maka dia ganti nama jadi Kamaya, karena saya dengar presenternya menyebutnya lebih ke Kak Maya. Kalau dari Jawa pasti namanya jadi Mbokmaya.


Penampilan berikutnya adalah The Gribs. Band ini seluruh personilnya mempunyai rambut yang panjangnya sepantat (jangan dibalik!). Tetapi jangan salah, mereka lelaki tulen yang mengusung musik rock and roll semacam Guns N Roses. The Gribs membawakan tiga buah lagu yang salah satunya berjudul Sinetron Indonesia.

Penampilan ketiga adalah G-String, girlband yang beranggotakan lima orang. Kalau menurut anda nama grup mereka aneh, coba dengar nama-nama personilnya; Noni, Sakei, Araki, Kahlui , Jekdi. Saya sangat yakin orangtua mereka kerja di bar.



Selanjutnya Tipe-X menggoyang FX Lounge dengan puluhan fansnya yang entah dari mana tiba-tiba saja muncul lengkap dengan kostum ska dan berpogo ria. Katanya Tipe-X akan merilis album barunya bulan depan.


Penampilan terakhir yang paling ditunggu-tunggu tentu saja adalah Netral. Yang pasti sangat memuaskan, Regar bilang dia sangat berapi-api, entah apa maksudnya. Netral membawakan empat buah lagu. Setelah mereka turung panggung, Regar minta foto bareng Bagus, Eno, sama Coki. Ternyata Regar juga sudah bawa CD Netral dan meminta tandatangan mereka di sampul albumnya.


Senyum sumringah menghiasi wajah Regar. Dia minta ditemani lagi nonton Efek Rumah Kaca bulan depan. Saya bilang insya Allah.

Anyway, setelah tiba di kosan saya berkaca sebentar melihat rambut saya. Astaga, saya mulai botak, mengapa ini terjadi? Coba lihat foto dibawah (dan tolong abaikan seprai Winny the Pooh dan kulit muka yang berminyak), pelipis kiri dan kanan saya semakin menjorok ke dalam dan jidat saya semakin lebar. Bagaimana cara mengobatinya? Padahal saya masih 25 tahun.


Kamis, 16 Juli 2009

Kamis, 16/07/09

Hari Minggu saya bangun pukul 9.00. Menghidupkan komputer dan menyaksikan The Apprentice Celebrity musim kedua. Tiba-tiba sudah jam 2, saya keluar sebentar cari makan. Kemudian jam 4 teman saya Riski mengajak jalan ke Pekan Raya Jakarta.

Ternyata PRJ sudah disesaki makhluk modern yang bernama manusia-manusia ibukota. Terlintas di kepala seandainya PRJ dibom maka populasi Jakarta akan berkurang 50%. Saya rasa ini merupakan solusi efektif mengatasi jumlah penduduk ibukota yang sudah membengkak. Memang dibutuhkan pemimpin yang revolusioner untuk melakukan perubahan radikal seperti ini. Jika di pemilihan gubernur yang akan datang ada kandidat yang mengkampanyekan program ini, 100% pilihan saya akan jatuh kepadanya.

Kembali ke PRJ, sekarang saya terjebak di depan sebuah keranjang pakaian yang dilabeli diskon 50% diantara ratusan orang yang mengalami kegilaan sementara. Kacau sekali, segera saya menyingkir dari situ. Teman saya Riski terus menjelajahi hall-hall yang ada di sana, entah apa yang dicarinya. Kemudian saya merasa muak dengan keramaian yang tidak masuk akal ini. Saya biarkan Riski sendiri berputar-putar entah di mana. Jam 20.00 saya dan Riski duduk di foodcourt. Saya menenteng tas plastik yang berisi satu celana khaki M2000, Riski menenteng tas plastik yang saya tidak tertarik dengan isinya. Setelah itu kami makan sambil membahas mana yang lebih baik antara PRJ tahun ini dan tahun lalu, dan menurut saya tak ada perbedaan yang signifikan. Beberapa saat kemudian kami berada diantara lautan manusia menyaksikan Ungu yang membawakan beberapa lagu seperti; Hati Hampa, dan lain-lain. Kemudian ada pertunjukan kembang api. Kemudian kami pulang.

--------------------------------------------------------

Hari Senin. Saya tidak begitu ingat apa yang terjadi di hari Senin. Semua terlihat kabur dan samar-samar. Mungkin saya bangun tidur jam 6 pagi, atau mungkin saya tidak bangun sama sekali. Mungkin saya ke kampus sebentar untuk mengisi absensi. Mungkin saya mengunjungi beberapa teman dan mengumpulkan bahan skripsi. Entahlah, saya tak begitu yakin. Ini efek dari menonton konser Ungu.

--------------------------------------------------------

Hari Selasa, saya benci-benci cinta dengan Selasa.

Benci karena sopir taksi yang membawa saya ke bandara Soekarno-Hatta seperti orang yang baru sekali datang ke Jakarta. Saya minta dia mengantarkan saya ke Cengkareng melalui Serpong kemudian masuk dari belakang bandara. Hal ini untuk mempersingkat waktu karena saya khawatir tidak dapat mengejar pesawat jam 11. Tetapi yang ternta terjadi adalah taksinya melewati Serpong, kemdian Tangerang, kemudian jalanan yang bolong-bolong, kemudian areal persawahan, kemudian areal gudang, kemudian areal perumahan, dan tiba-tiba kami sudah berada di daerah Kapuk melintasi gapura Bali. Ya, ternyata sopirnya memutar dan tetap memasuki bandara dari depan. Saya tiba di bandara jam 10.45.

Benci karena hal yang selanjutnya terjadi adalah saya mengiba-ngiba di depan petugas check-in untuk mengijinkan saya check-in. Kemudian saya diusir. Kemudian saya mengiba-ngiba di depan petugas ticketing. Kemudian petugas ticketing menatap dengan raut wajah bosan dan pandangan kosong. Kemudian penerbangan saya dipindah ke 12.30. Kemudian saya diharuskan membayar lagi Rp 153.000. Kampret!!! Sopir taksi kampret! Kemudian saya mendengar panggilan checkin yang terakhir untuk penerbangan saya yang semula yang jam 11.00. Berarti seharusnya tadi saya masih bisa check-in. Kampret!!! Petugas check-in dan ticketing kampret. Tapi saya sudah terlalu capek untuk protes dan menciptakan drama di bandara. Toh bapak-bapak yang tadi di sebelah saya dan ternyata terlambat juga dan berteriak-teriak di depan petugas ticketing dengan sekuat tenaga dan air liur yang menyembur-nyembur tetap tidak mendapatkan apa-apa. Jadi saya tinggalkan loket tiket dan pergi makan siang.

Benci karena di atas pesawat saya duduk di sebelah pintu darurat dan seorang pramugari duduk di seberang saya. Pesawat mulai bergerak dan, mungkin karena melihat muka saya yang pucat dengan mulut komat-kamit, pramugari itu mengucapkan beberapa kalimat seperti;
"Baru pertama naik pesawat?"
"Kalau takut jangan melihat ke jendela"
"Sebelumnya pernah mengalami kecelakaan?"
"Atau saya pindahkan saja Bapak ke kursi yang lain?"

Yang membuat saya cinta dengan Selasa adalah hari ini saya pulang ke Medan. Bertemu lagi dengan ibu dan bapak tercinta. Bertemu dengan abang-abang dan kakak-kakak. Bertemu dengan keponakan berusia 11 bulan yang bernama Raihan dan langsung nempel begitu melihat saya karena dikiranya saya bapaknya (tetapi ketika abang saya (bapaknya yang asli) datang, dia membuang muka ketika akan saya gendong). Bertemu dengan nenek saya yang berusia 90 tahun lebih dan saat ini sedang sakit karena terjatuh di parit depan rumah beberapa waktu lalu. Kaki kirinya patah dan dokter tidak bisa berbuat banyak karena kasus patah tulang pada lansia susah untuk diobati. Sekarang nenek saya tidak bisa berjalan lagi, hanya bisa ngesot sambil mengaduh-aduh. Saya merasa kasihan tapi tidak mampu berbuat apa-apa.

Senin, 13 Juli 2009

Senin, 13/07/09

Hari Sabtu saya bangun jam 5.30 dan pergi ke Cikini jam 6.30. Ada apa di Cikini? Begini ceritanya;

Karena saya bosan di kosan dan sepertinya tidak satupun teman yang rela saya ganggu acara weekendnya, maka saya pun mencari-cari kegiatan untuk mengisi Sabtu ini. Saya menemukan situs ini yang mengadakan acara rutin bulanan Wiken Tanpa ke Mal, sebuah acara mulia yang dirancang untuk memberi alternatif masyarakat ibukota yang bosan dengan kegiatan menghabiskan akhir pekan di mall. Bulan lalu mereka mengadakan acara di Ragunan, dan bulan ini kegiatan dilakukan di Cikini dengan judul Acik di Cikini.

Acik di Cikini

Acik. di. Cikini.

Seandainya panitia lebih kreatif, mereka bisa membuat judul yang lebih eye catchy dan mengundang;

Bikini di Cikini

Baiklah, mungkin bikini terlalu vulgar untuk masyarakat Indonesia yang memegang teguh adat ketimuran (keluarga Azhari tidak dihitung). Tapi bisa juga seperti ini;

Banci di Cikini

Nyuci di Cikini

Apapun selain Acik di Cikini, karena kata "acik" terlalu dipaksakan dan terdengar seperti sebuah kata yang dilontarkan oleh remaja tanggung, sangat kontras dengan kenyataan bahwa panitianya sudah tua-tua.

Seharusnya saya sudah tau dari semula bahwa dengan judul senorak ini saya tidak dapat berharap banyak, tetapi saya selalu berusaha berpikiran positif. Jadwal di situs mengatakan acara dimulai jam 7.30, saya sampai di Gedung Juang 45 jam 8.00 dengan perasaan malu karena terlambat. Ternyata tidak perlu malu karena acara baru dimulai jam 9.00, yang menurut saya sangat tidak bisa ditolerir karena terlambatnya orang Indonesia yang bisa dimaklumi adalah 30 menit.

Untuk merangkum kegiatan yang kami lakukan selama di Cikini akan saya kutip kalimat pada situs Wiken Tanpa ke Mall;

"bermain, berkreasi, sambil berekreasi menyusuri rute mulai dari Gedung Joang '45 - Kantor Pos Cikini - Toko Roti Tan Ek Tjoan - Toko Roti Maisson Benny sampai ke Planetarium. Tentunya dengan beragam kegiatan yang akan menambah wawasan, mulai dari pukul delapan pagi sampai pukul satu siang".

Hilangkan semua kata sebelum kata "menyusuri..." dan hilangkan semua kata setelah kata "...Planetarium", maka seluruh kegiatan dapat disimpulkan dengan sebuah kata "sangat membosankan, lebih membosankan dari mendengar kotbah jumat". Baiklah, itu lebih dari satu kata, tetapi Anda mengerti maksud saya.

Saya tidak merasa acik di Cikini. Saya merasa ingin harakiri di Cikini.

Saya tidak akan terlalu nyinyir dan melakukan hujatan yang berlebihan lagi kepada panitia. Bagi sebagian peserta mungkin kegiatan menyusuri jalan di Cikini ini sangat menyenangkan. Tapi bagi saya yang kebetulan punya teman yang kos di sana dan sudah beberapa kali bolak-balik Gedung Juang 45 - Taman Ismail Marzuki, sama sekali tidak ada hal baru yang saya temukan. Tetapi Palnetariumnya merupakan pengalaman pertama saya. Menyenangkan sekali tidur selama setengah jam didalamnya. Pada sisi positif, saya dimasukkan ke dalam satu grup dengan sebuah keluarga yang sangat baik. Mereka membawa 2 anak kecil yang cukup menggemaskan.



Selepas harakiri di cikini, saya memutuskan untuk mengunjungi Bear yang kos di daerah Kramat. Di kosan Bear sudah ada Acun dan Budi yang katanya ingin mencoba es krim Ragusa. Jadi kami meluncur ke Ragusa di Jl. Veteran (di sebelah Istiqlal). Bear memesan spaghetti ice cream, Acun strawberry, Budi coup de noussan, saya tuti frutti, Bear masih merasa kurang dan memesan banana split.


Acun, Budi, dan Bear di Ragusa

Sekarang jam 3.30 dan kami merasa ingin melakukan ice skating. Jadi kami (minus Budi yang harus pulang) melaju ke Mal Taman Anggrek. Ini adalah pengalaman pertama saya ice skating, dan bisa dibilang cukup sukses. Pertama saya masih takut-takut dan selalu berpegangan pada kayu di pinggir ring. Acun bilang kalau takut jatuh tidak akan pernah bisa meluncur, yang penting kaki tidak boleh kaku dan berjalan seperti biasa (tidak manjur karena saya terpeleset berkali-kali). Setelah setengah jam akhirnya saya menemukan cara saya sendiri untuk meluncur dan menjaga keseimbangan. Ternyata sangat menyenagkan walaupun gaya meluncur saya terlihat kaku.

Di sisi yang lain, Bear yang menyatakan sudah beberapa kali ice sakting ternyata masih belum bisa meluncur dan selalu terjatuh. Akhirnya Bear jatuh di tengah ring dan tidak bisa bangkit. Kejadian berikutnya adalah Acun meminta tolong orang lain untuk menyeret Bear keluar dari ring. Bayangkanlah seekor beruang seberat 125 kilogram harus diseret keluar dari ring ice skating. Saya pura-pura tidak kenal mereka.

Jam 7.30 perut kami terasa lapar dan memutuskan untuk makan di Beppu, restoran jepang yang menurut Acun terkenal dengan ramennya. Saya tidak ingat nama menu yang kami pesan tetapi kami bertiga memesan tiga porsi ramen dengan jenis yang berebda, tiga porsi teh ochi, ditambah Bear memesan satu porsi sushi . Total harga yang harus kami bayar dikurang discount dari kartu kredit Acun adalah Rp 183.000. Harga yang tidak sesuai dengan rasa, ramennya tidak enak.


Bear dan saya di Beppu



Saya mencoba berpose ala iklan Indomie

Setelah mengisi perut kami melewati gerai Point Break yang sedang ada discount. Saya membeli satu kaos Billabong putih vintage dengan gambar totem, satu kaos Quicksilver warna hijau tua polos dan satu kaos Quicksilver putih dengan tulisan "Foundations in Radness". Bear membeli satu buah dompet Billabong. Acun tidak membeli apa-apa.





Jam 9.15 kami memutuskan bahwa tubuh kami telah letih. Pulang dari Taman Anggrek menggunakan taksi. Kemudian saya diturunkan di halte busway Harmoni karena Bear dan Acun kosannya berada di daerah Senen. Jam 9.30 saya mengantri di halte busway selama 20 menit (Abaikan kenyataan bahwa selama 20 menit itu ada satu rombongan orang udik yang mengantri di belakang saya, dan ada satu perempuan yang selalu latah ketika ketika diganggu teman-temannya. Abaikan fakta bahwa suara latahan perempuan tersebut dan suara tawa teman-temannya sangat lantang dan menyebabkan polusi suara). Jam 11 saya tiba di kosan dan terkapar kecapekan.

Minggu, 12/07/09

Masih di hari Jumat. Selepas dari mesjid, saya merasa sekarang saatnya untuk bersenang-senang dan bersantai menikmati hidup. Bukan karena beberapa hari sebelumnya saya tertekan oleh tenggat outline skripsi, tetapi karena bersenang-senang dalam kamus saya artinya jalan dengan teman-teman. Dan saya suka bercanda dengan mereka, menertawakan kebodohan mereka. Sebentar. Sepertinya saya yang lebih sering ditertawakan mereka.

Saya mengirimkan sms ke Roid mengajaknya jalan-jalan menikmati weekend. Berikut ini petikan sms antara Roid dan saya;

Saya: Ragaku teronggok di sudut kos, rindu akan hingar bingar ibukota. Kasihanilah dia...

Roid: Ragaku tercabik-cabik oleh hingar bingar ibukota semenjak kemarin. Butuh waktu sejenak untuk menyembuhkannya. Biarlah aku senyap jauh dari kebisingan.

Saya: Kalau begitu aku akan membujuk Anak Tegal untuk merayumu. Kau akan luluh olehnya.

Roid: Jangan. Imanku gampang goyah. Apalagi gadis tegal itu sering mengiming-imingi dengan traktir.

Kemudian saya kirim sms kepada Anak Tegal, "jalan yuk, ajak roid juga.", dan setelah 30 menit tidak ada balasan

Saya: Anak Tegal itu tidak membalas smsku

Roid: Dia bingung mau balas apa. Katanya pengen sih. Gw lagi kuliah. Sial!

Saya: Dasar, bukannya bales sms gw malah ngadu ke elu. Emangnya dia pikir gw bakal naruh obat tidur ke dalam minumannya. 10 orang yang lebih sintal dari dia pun bisa gw dapatkan. Tips gw untuk menghadapi kuliah yang membosankan, selalu siapkan komik Sincan dalam tas. Tapi IP gw jeblok.

Tak ada balasan dari Roid. Ternyata saya salah kirim sms, malah terkirim ke Anak Tegal.

Jam 4 sore saya pergi berenang. Bukan untuk memamerkan otot-otot dada dan perut saya (yang tidak ada), ini lebih untuk melatih kebugaran jasmani dan menyegarkan pikiran. Tetapi tidak ada pemandangan yang menarik di kolam, kecuali kalau menurut Anda bapak-bapak gendut, gerombolan remaja kerempeng, dan belasan anak kecil terpekik-pekik adalah pemandangan menarik. Setelah satu jam bolak-balik berenang ujung ke ujung (yang panjang, bukan yang lebar), saya balik ke kosan.

Tiba-tiba sudah jam 10 malam. Ternyata saya ketiduran setelah capek berenang. Saya terbangun oleh dering handphone, dari Anak Tegal. "Kami mau karaoke sekarang, ayo jalan". Tapi saya terlalu capek, jadi saya tidur lagi. Sekian untuk hari ini.